Share
Scroll down

Baca
Artikel

Sokrates, Si Raja Teka-Teki

sokrates socrates>

An image

 

“Mengajukan satu pertanyaan dapat lebih memancing ledakan dibandingkan dengan seribu jawaban.”
—Jostein Gaarder dalam Dunia Sophie

Sokrates (469-399 SM), mungkin salah satu tokoh pemikir paling penuh teka-teki di dalam sejarah filsafat dan pemikiran. Sokrates juga filsuf paling berpengaruh bagi peradaban Eropa. “Dia mengubah cara kita mengajukan pertanyaan, dan karena itu, mengubah jawaban-jawaban yang dihasilkan,” tulis Eric Weiner dalam buku terbarunya, The Socrates Express: In Search of Life Lessons from Dead Philosophers.

Konon, Sokrates terlahir dengan buruk rupa. Dua bola matanya seperti sepasang mata kepiting. Hidungnya pesek dan besar. Perutnya buncit. Jarang mandi. Bahkan, dia sering berkeliaran di alun-alun dan pasar di Athena tanpa alas kaki.

Tidak seperti filsuf pada umumnya, Sokrates tak pernah menerbitkan satu pun buku. Kita cukup beruntung dapat mengenalnya lewat catatan-catatan kuno yang ditulis oleh segelintir murid Sokrates, terutama Plato. Dia juga tak tertarik untuk mengumpulkan murid. Dan hal ini, salah satu yang membedakan dirinya dengan kaum sofis yang masih melimpah di Yunani pada masa itu.

Kaum sofis mencari nafkah dengan mengutip uang dari pengajarannya. Para sofis juga pandai beretorika. Sokrates adalah filsuf dalam arti yang sesungguhnya, “orang yang mencintai kebijaksanaan.”

Kita tak pernah mengenal gagasan Sokrates, tapi kita mengenal cara berpikir Sokrates. Ungkapan Sokrates paling terkenal: “Hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa.” Dia tidak ingin menggurui. Sebaliknya, dia ingin memberi kesan sebagai seseorang yang ingin banyak belajar dari mitra bicaranya. Maka, sebagai guru, alih-alih memberi ceramah, seringnya dia mengajak berdiskusi.

Dia sering bertanya dan membuat warga Athena sebal kepadanya. Sepintas, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Sokrates seperti pertanyaan sepele. Namun, di situlah jaring teka-teki Sokrates bermula. Misalnya, Sokrates bertanya kepada para perwira tentang apa itu keberanian. Dia juga bertanya kepada penyair kerajaan tentang apa itu puisi. Dapat ditebak, keduanya sulit menjawab pertanyaan Sokrates.

Sokrates tak pernah puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan mitra bicaranya. Dalam berbagai diskusi, biasanya Sokrates berhasil membuat mitra bicaranya mengakui kelemahan-kelemahannya. Dan setelah tersudut, mereka bisa menyadari apa yang benar dan apa yang salah. Baginya, orang akan melakukan kebaikan seandainya orang itu memahami apa itu kebaikan. Sementara, orang bertindak jahat karena tak mengerti apa itu jahat.

An image
Salah satu adegan yang menggambarkan detik-detik sebelum Socrates menenggak racun.
(sumber gambar: Wikimedia Commons)

Tindakan Sokrates yang sering mengajak warga Athena berdiskusi ini lambat-laun membikin orang-orang jengkel, terutama mereka yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat Athena. Puncaknya, pada 399 SM, dia dihukum mati menenggak racun dengan tuduhan tidak beriman dan telah merusak anak muda Athena.

“Kita jarang mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas. Menurut Sokrates, hal ini merupakan kelalaian sekaligus kesalahan,” tulis Weiner. Sepintas mempertanyakan kembali sesuatu yang sudah jelas terkesan konyol. Mengajukan pertanyaan konyol dan bodoh.

Namun, pada kenyataannya, kita jarang merenungkan kembali apa yang benar-benar kita ketahui. Kita sering menganggap bahwa diri kita mengetahui sesuatu tanpa pernah menguji pemahaman kita. Bahkan, sebagian dari kita, barangkali tak siap mengakui bahwa sesungguhnya kita tak mengetahui apa-apa.

Oleh sebab itu, kita mudah dan cepat berangasan ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan ‘konyol’. Bukan karena pertanyaan-pertanyaan itu konyol atau bodoh, tapi kita kesulitan menjawabnya dengan baik. Pertanyaan konyol itu menelanjangi ketidaktahuan kita.

Sokrates bisa saja lolos dari hukuman matinya. Namun, dia memilih untuk tetap teguh dengan apa yang diyakininya. Dia tewas tak lama setelah menenggak racun hemlock di depan kawan-kawannya.[]

Penulis: Ilham Miftahuddin (Redaksi Mizan Pustaka)
Editor: Ana D. Itsna Pebriana (Redaksi Mizan Pustaka)

tags : eric weiner, socrates, marcus aurelius, geography of bliss,

Related Post

Back to top