Share
Scroll down

Baca
Artikel

Spiritualitas Cuma Urusan Otak dan Bukan Kesadaran Transenden?

spiritualitas>

Mari Jadi Peneliti yang Lebih Berhati-hati

Sebelum yang lain-lain: apakah Spirit itu?

Spirit—orang bisa saja setuju atau tidak akan keberadaannya—dipahami sebagai suatu sumber kesadaran/ pikiran (consciousness/mind) yang berada di luar diri kita, mentransendensikan wujud fisik kita, yang—bagi yang percaya—diri kita terhubung dengannya. Dalam konteks ini, spirit kadang disebut Diri Lebih Tinggi, Diri Lebih Besar, dan lain-lain. Sementara, diri kita—yakni, diri lebih rendah atau lebih kecil—adalah sama dengan kesadaran kita yang terbentuk di lingkungan diri fisik kita dan berpuncak dalam otak.

Nah, dalam hal pikiran (mind), kaum monist di bidang psikologi berkeyakinan bahwa semua kedirian kita adalah hasil dari operasi otak kita. Dengan demikian, kalaupun ada sesuatu yang bisa disebut sebagai Spirit, maka ia bukanlah sesuatu yang berada di luar diri atau wujud fisik kita. Ia adalah bagian dari kerja otak belaka.

Tapi, menurut kaum dualist, pikiran kita tak terbatas pada hasil-hasil operasi otak kita saja, melainkan ada juga limpahan dari sesuatu yang berada di luar diri fisik kita. Momen ketika kita dianggap menerima limpahan itulah yang disebut sebagai pengalaman spiritual—yang bersumber dari Spirit tadi. Kaum monist biasanya selalu mengatakan bahwa, lewat eksperimen, didapati bahwa bagian otak (frontal lobes)-lah yang bertanggung jawab atas apa yang disebut sebagai pengalaman spiritual itu. Bahwa yang terjadi adalah gejala yang sepenuhnya serebral— bersumber dari otak—sebagaimana gejala-gejala serebral lain. Tak lebih, tak kurang. Artinya, tak ada apa pun yang disebut sebagai Diri Lebih Tinggi/Diri Lebih Besar, yang oleh orang beragama biasa diasosiasikan dengan gagasan tentang Tuhan atau yang sejenisnya.

Namun demikian, kata kaum dualist, persoalannya adalah: dari mana kita tahu bahwa yang terjadi di otak adalah pangkal gejala ini, dan bukannya apa yang terjadi di otak itu adalah akibat dari suatu sebab lain yang berada di luar otak—dengan kata lain, di luar diri atau wujud fisik kita? Bahkan, menjawab kaum monist, kenyataan bahwa penyakit (seperti epilepsi), induksi elektroda ke otak depan (frontal lobes), maupun zat-zat psikotropika, dapat menghasilkan pengalaman yang mirip dengan pengalaman religius, bisa berarti bahwa kesemuanya itu hanya berfungsi menghilangkan hambatan dan membuka jalan bagi diri kita untuk dapat berhubungan dengan sumber spiritualitas itu. Misal, rusaknya bagian otak tertentu dipercayai bukan menguatkan fungsi sumber rasa spiritualitas yang ada di otak, melainkan mengangkat halangan dan membuka jalan bagi jalur hubungan kepada apa yang disebut Spirit tadi. Demikian halnya dengan kondisi-kondisi lain yang dipercayai menghasilkan rasa spiritual semacam itu. Dan perdebatan antara kedua kelompok ini—yang juga didukung psikolog-psikolog paling andal di dunia—masih panjang.

Masih dalam rangka berargumentasi dengan para monist ini, para dualist juga menunjukkan berbagai bukti tentang adanya sumber-sumber di luar diri, yang bisa disebut sebagai spiritualitas. Termasuk adanya pengalaman mistis—yang sudah banyak diteliti—yang membuka kemungkinan bagi adanya sifat objektif pengalaman ini. Kenyataannya, terdapat pola yang sama dan berulang— sebagaimana dalam observasi eksperimental atas gejala-gejala fisik—terkait pengalaman spiritual yang melibatkan orang-orang secara lintas masa, budaya, agama, gender, dan lain-lain.

William James adalah seorang ahli yang pada awal tahun 1900-an sudah berargumentasi tentang hal ini dalam bukunya, yang sampai sekarang belum tergantikan, berjudul The Varieties of Religious Experience. Demikian pula halnya dengan fenomena mimpi yang benar (lucid dreams) dan bersifat prediktif. Lalu NDE (Near Death Experience), yang menunjukkan tetap adanya kesadaran, sering bersifat religius/mistikal ketika otak dalam keadaan sudah tidak bekerja. Masih ada juga kemujaraban (efficacy) doa, yang lagi-lagi banyak diteliti secara ilmiah. Bahkan, kenyataan adanya pengaruh pengamat pada perilaku objek fisik di tingkat subatomik—seperti diungkap oleh teori ketidakpastian Heisenberg—juga dijadikan bukti. Bahwa ada kesadaran yang saling berinteraksi antara manusia dan benda yang bisa diyakini sebagai menunjukkan bahwa sumbernya ada di luar manusia atau benda itu.[]

Artikel ini ditulis oleh Haidar Bagir dan dimuat dalam buku Sains “Religius”, Agama “Saintifik” cetakan ke-2.

tags : ulil, haidar, haidar bagir, ulil abshar, sains dan agama,

Related Post

Back to top