Share
Scroll down

Baca
Artikel

The Geography of Bliss: Mencari Tempat Paling Bahagia

15-07-2020Category : Novel
letak bahagia>

Ada begitu banyak buku—terutama buku-buku motivasi dan self-improvement, yang fokus menjawab pertanyaan “bahagia itu apa?” atau “bagaimana cara agar bahagia?”. Buku-buku seperti ini biasanya laris (tentu, tidak semuanya) dan kadang menghibur, terutama bagi masyarakat urban yang sehari-hari menjumpai keruwetan. Eric Weiner dalam The Geography of Bliss (Penerbit Qanita, 2019) lebih tertarik mencari jawaban “di mana sih kebahagiaan berada?”.

Weiner, sebagai mantan koresponden asing untuk National Public Radio (NPR) sering melakukan perjalanan ke pelbagai tempat yang tidak membahagiakan seperti Iraq dan Afganistan. Tapi, bagaimana jika di tempat-tempat yang kacau itu, justru kebahagiaan bisa ditemukan? Atau, mengapa sebuah negara dikatakan lebih bahagia daripada negara lain? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong Weiner untuk menjelajah tempat-tempat kebahagiaan di dunia.

The Geography of Bliss berisi catatan perjalanan Weiner ketika berkunjung ke pelbagai tempat. Weiner memilih tempat-tempat itu secara “saintifik” (hasil riset tentang indeks kebahagiaan) sekaligus tanpa alasan. Buku ini lebih seperti buku memoar ketimbang buku laporan jurnalistik.

An image

Ada sepuluh negara yang dituliskan. Belanda merupakan destinasi pertama Weiner. Di sana dia berkunjung ke World Database of Happiness (WDH) dan bertemu dengan Bapak Riset Kebahagiaan, Ruut Veenhoven. Veenhoven adalah perintis studi ilmiah tentang kebahagiaan.

Di WDH, Weiner menemukan hasil-hasil riset yang biasa saja sekaligus mengejutkan. Tetapi, yang lebih penting, Weiner menemukan atlas kebahagiaan di WDH. Atlas yang akan memandunya untuk menjelajah ke pelbagai tempat dalam upayanya mencari tempat kebahagiaan.

Weiner menyebut dirinya sebagai penggerutu sekaligus bukan orang yang bahagia. Weiner menunjukkannya dalam buku ini, seperti ketika dia protes pada keteraturan, ketertiban, dan ketelatenan orang-orang Swiss yang membosankan. Gerutu-gerutu ini dituliskannya dengan jenaka.

Tetapi, apakah penjelajahan ini mampu mengubah Weiner dari tidak bahagia menjadi bahagia?  Dalam sebuah wawancara, dia mengakui bahwa selama perjalanan dia telah mengumpulkan potongan-potongan kebijaksanaan. Salah satu potongan favoritnya adalah “mai pen lai” dari Thailand. Mai pen lai memiliki arti “tidak apa-apa” secara harfiah. Tidak semua masalah harus diselesaikan atau dipikirkan.

Membaca The Geography of Bliss belum tentu dapat membuat Anda lebih bahagia daripada sebelumnya. Meski tidak ada jawaban yang pasti soal di mana tempat paling bahagia, tetapi, setidaknya, buku ini bisa memandu Anda dalam perjalanan mencari tempat paling bahagia, tapi bukan surga.[]

tags : letakbahagia, ericweiner, self-improvement,

Related Post

Back to top