Share
Scroll down

Baca
Artikel

Kenapa Kita Harus Membaca The Professor karya Charlotte Brontë

Charlotte Brontë >

the professor charlote bronte

Charlotte Brontë merupakan anak ketiga dari keluarga Brontë, yang dikenal sebagai keluarga sastrawan. Brontë menjadi terkenal dan dikagumi lewat maha karanya, Jane Eyre. Lagi pula, siapa yang tak terpikat oleh semangat dan ketahanan Jane serta kisah cintanya bersama Mr. Rochester? Meskipun Jane Eyre adalah novel pertama Charlotte Brontë yang diterbitkan, tapi ia bukan novel pertama yang ditulisnya. Novel yang pertama ditulisnya berjudul The Professor. Meskipun novel ini kurang populer, berikut ini adalah 3 alasan kenapa harus membaca novel The Professor.

 

1. Novel pertamanya Charlotte Brontë ini memberi kita gambaran tentang kehidupannya sendiri

 

Alur novel The Professor punya banyak kemiripan dengan pengalaman hidup Charlotte Brontë ketika dia belajar dan kemudian mengajar di Brussels. Kehidupan Charlotte terputus; dia mungkin saja akan meninggalkan berbagai karya yang menarik, andai saja situasinya berbeda. Maka, membaca semua tulisannya amat penting untuk bisa mendapatkan pemahaman tentang perempuan dan kepenulisan. Novel ini, upaya pertamanya, ia merupakan kepingan puzzle dari teka-teki Charlotte Brontë. Charlotte sendiri berkomentar, “Bagian tengah dan akhir dari The Professor ditulis sebaik yang bisa aku tuliskan… ia mengandung lebih banyak intisari, substansi, realitas, dalam penilaianku, daripada Jane Eyre.” Bahasa di dalam karya Brontë ini merupakan suguhan sastra tersendiri.

2. The Professor merupakan upaya pertama Charlotte dalam penulisan novel; meskipun, ketika menulis, dia bukan seorang penulis amatir.

Dia telah menulis puisi dan cerita bersama kakak laki-lakinya, Branwell Brontë selama bertahun-tahun. Tetap saja, di dalam The Professor, kita menemukan kedua hal antara ketidakmatangan Charlotte sebagai novelis dan fondasi bagi karya yang kelak ditulisnya. Charlotte mengirimkan manuskrip novelnya ke berbagai penerbit dan semua penerbit menolaknya mentah-mentah. The Professor ditolak oleh agensi yang sama, yang mengambil naskah Wuthering Heights karya Emily Brontë dan Agnes Grey karya Anne Brontë. Meski tidak terbit hingga dia wafat, The Professor terbukti menjadi inspirasi bagi Charlotte dan batu loncatan bagi novelnya yang terkenal Villete.Dia memasukkan sebagian banyak susunan cerita dari The Professor, mengganti tokoh utama perempuan di Villete.

 

3. Di The Professor, Brontë menyajikan pembaca dengan alur cerita dan tokoh yang realistis

An image

 

Pada kata pengantar novel, Charlotte dengan nama samara Currer Bell mengaku, “Aku meyakinkan diri sendiri bahwa tokoh utamaku harus mengatasi kesulitan hidup sebagaimana kulihat dilakukan oleh para pria sungguhan dalam kehidupan sehari-hari.” Bagi sebagian pembaca, novel ini dipenuhi dengan banyak deskripsi yang panjang dan tak perlu. Dengan begitu, ia berjalan dengan lambat. Kita tidak melihat perjuangan batin dari tipe tokoh Jane Eyre. Bagaimanapun, kita melihat kehidupan nyata, perjuangan nyata, dan keteguhan yang realistis yang sangat menarik. Peristiwa yang digambarkan adalah hal yang biasa, kejadian sehari-hari. Pembaca mungkin akan menemukan diri mereka bertaut dengan William Crimsworth dan mengagumi wataknya. Di satu sisi, Charlotte berhasil menulis sebuah bildungsroman (roman yang berfokus pada tema pendidikan manusia), kisah cinta yang tulus dengan tokoh utamanya, yang penuh dengan kesadaran diri dan tak mudah ditipu.

Brontë menulis dengan cara yang memungkinkan pembaca memahami emosi Crimsworth tanpa perlu melihat luapan renjana yang besar, yang amat akrab dengan para tokoh utama dalam karya-karyanya yang lain. Untuk alasan itu, The Professor harus dibaca dan diapresiasi.[]

Diterjemahkan dari Why You Should Read Charlotte Brontë's The Professor di laman Bookstellyouwhy.com.

Penulis: Leah Dobrinska
Penerjemah: Ilham Miftahuddin – Redaksi Mizan Pustaka

tags : ,

Related Post

Back to top